A Chalice of Wine
Chapter 2
Be glad of life
because it gives you the chance to love
and to work and to play and to look up at the stars.
Henry Van Dyke
“Kau Suzy bukan??” Lelaki itu mengulang pertanyaannya padaku.
“Ye.. Kau tau namaku dari mana?” Aku menyuarakan pikiranku dengan tampang penasaran.
“Ya! Suzy!! Masa kau tidak ingat aku?” Mendadak di wajah lelaki itu terukir senyuman manis, membuat wajahnya yang pucat pasi menjadi sangat tampan.
“Memangnya kau siapa??” Aku semakin bingung dengan semua tingkahnya.
“Aku ini pacarmu!!!”
Mwo?? Apa yang baru saja dikatakannya? Pacar? Namja chingu? Aku saja tidak tau namanya, bagaimana mungkin aku bisa menjadi pacarnya? Ataukah mungkin ia kehilangan ingatan? Atau… ada yang tidak beres dengan otaknya??
“Ya! Mengapa kau memandangku dengan wajah seperti itu? Kau tau aku paling tidak suka melihatmu memasang tampang begitu.” Lelaki itu pura-pura kesal dengan tingkahku
Memangnya ada apa dengan wajahku tadi? Lelaki itu balik memandangku. Kedua matanya seperti memancarkan sinar kebahagiaan.
“Ya! Ada apa dengan dirimu? Apakah kau kepalamu terluka sangat parah?” Aku memeriksa bagian kepala belakangnya yang sempat mengeluarkan banyak darah.
“Anio.. Aku hanya merasakan sedikit sakit.” Ia meraba bagian belakang kepalanya.
“Kalau begitu, mungkin kau belum sadar sepenuhnya. Mungkin kau butuh istirahat.” Aku tersenyum menatapnya.
“Gwenchana~ aku sudah merasa lebih baik. Sepertinya kau lebih butuh istirahat dibandingkan denganku. Sudah berapa lama aku tertidur? Apakah itu merepotkanmu? Mianhe chagiya…”
Ia menundukkan kepalanya dan menggenggam tanganku.
Secara tidak sengaja, aku menarik cepat tanganku dari genggamannya. Changkaman, apa yang baru saja dikatakannya? Chagiya?
“Aku jelaskan padamu, kepalamu mengalami luka yang cukup parah. Kau belum pulih benar. Aku minta padamu berhenti memanggilku dengan kata “chagiya” karena aku bukanlah pacarmu.” Aku menatapnya serius. Tetapi sepertinya ia sama sekali tidak menghiraukan perkataanku yang baru saja kuucapkan. Mungkin aku harus memberinya sedikit waktu untuk berpikir jernih sementara aku bertanya tentang kondisinya pada dokter min woo.
“Hem… aku tinggal sebentar. Akan aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu. Tunggu di sini, aku akan kembali.”
Aku berjalan keluar kamar rumah sakit dan segera melangkahkan kakiku menuju ruangan dokter Min Woo.
“Dokter, pasien yang tidak dikenal itu baru saja sadar. Tapi, tolong anda periksa bagian otaknya. Mungkin saja terjadi hal-hal yang di luar dugaan.”
“Di luar dugaan? Apa maksudmu?” Dokter itu bertanya padaku dengan wajah tak mengerti.
“Sebelum aku ceritakan, lebih baik anda memeriksanya terlebih dahulu.” Aku mengisyaratkan Min Woo agar cepat keluar dan memeriksa lelaki misterius itu.
Dokter Min Woo memeriksa lelaki itu tanpa ekspresi apa pun. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Aku menghampiri dokter Min Woo dan membantunya mencatat kondisinya.
“Dokter, bantulah aku untuk meyakinkannya bahwa dia adalah pacarku.” Lelaki itu mendadak mengarahkan telunjuknya padaku dan berbicara pada dokter Min Woo.
Dokter Min Woo terlihat bingung dengan permintaan lelaki itu.
“Dokter, kau sudah mengerti bukan, mengapa aku menyarankan untuk memeriksa kepalanya dengan lebih teliti.” Ujarku seraya melirik lelaki itu.
Sang dokter tersenyum menatapku seraya mengangguk – anggukan kepalanya.
“Setau saya, kau memang tidak pernah pacaran dengan perempuan ini. Dia hanya membantumu saat kecelakaan yang menimpamu terjadi kurang lebih seminggu yang lalu.” Nada suara sang dokter terdengar bijak dan lebih sabar.
“Tapi dokter, aku yakin kalau dia ini pacarku.” Lelaki itu bersikeras dengan perkataannya.
“Sudah, kau istirahat saja dulu.” Aku tersenyum pada lelaki itu.
“Dokter, biar saya saja yang menanganinya. Saya tau dokter tidak mempunyai banyak waktu untuk ikut campur dalam masalah sepele seperti ini.” Aku menuntun dokter Min Woo menuju pintu kamar dan membiarkan dirinya pergi menjauh dari kamar itu.
Aku menghampiri lelaki itu dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut hangat.
“Lebih baik kau membaringkan tubuhmu dan memberinya waktu untuk beristirahat.” Ujarku seraya memeriksa semua peralatan rumah sakit yang berada di sekitar tubuhnya.
“Aku akan istirahat, asalkan kau janji untuk tetap di sini menemaniku.” Ia menatap mataku dengan kedua mata indahnya. Aku tertegun melihat kebahagiaan yang terpancar dari kedua matanya. Dalam sekejap aku tak menyadari bahwa diriku tak mampu memalingkan mataku dari pesona ketampanannya.
“Aku… aku akan tetap di sini..” Jawabku ragu. Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Mengapa saat melihat matanya, kebahagiaan yang ada mampu membiusku untuk tidak memalingkan wajahku darinya. Sungguh suatu kejadian yang aneh. Pertama kalinya diriku begitu merasa kagum hanya dengan melihat bola matanya yang indah.
“Baiklah, aku percaya padamu. Letakkan kursi dan duduklah di sampingku.” Ia tersenyum menatapku.
Aku menuruti semua keinginannya. Mungkinkah aku mulai menyukai lelaki tanpa nama ini? Ataukah ini hanya untuk sementara?
“Aku membutuhkan nama lengkapmu untuk mengisi data rumah sakit yang belum sempat diisi.” Aku meliriknya dan mendapati dirinya sedang memperhatikan diriku.
“Aish~ bahkan kau lupa namaku?” Tanyanya dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
“Aku sudah pernah berkata padamu bahwa aku bukanlah pacarmu. Aku tidak mengenalmu. Wajar saja jika aku tidak mengetahui nama dan semua data tentang dirimu.” Aku menatapnya serius. Tapi entah mengapa setiap kali aku menatapnya dengan tatapan serius, ia selalu menganggap seolah-olah aku sedang bermain sandiwara dengannya.
“Sudahlah, daripada kau terus menerus tidak mengakuiku, aku akan mengatakannya kepadamu. Namaku, Kim Jae Joong atau Hero Jae Joong.”
Aku menuliskan namanya di selembar kertas data berwarna putih dengan tulisan tinta hitam.
“Kau sudah mengakuiku sebagai pacarmu bukan?” Tanyanya seraya mengamati diriku yang tengah menulis data tentang dirinya.
“Anio.. Aku tidak mau… Kau bukanlah pacarku…” Aku menggelengkan kepalaku pertanda ketidaksetujuanku.
“Aish~ Aku sudah mengatakan namaku, dan memberikan informasi agar kau bisa menyelesaikan data tersebut dengan cepat. Kali ini terimalah permintaanku…” Ia mengeluh seraya menatapku dengan tatapan memelas.
Aku menatapnya tajam. Bagaimana mungkin aku bisa menganggapnya sebagai pacarku? Aku berpikir keras, namun tanganku masih menulis dengan telaten.
@@@@
Sudah seminggu sejak lelaki itu keluar dari rumah sakit. Sekarang ia tinggal di apartemenku. Rumah yang ia tinggali telah dijual untuk membayar biaya pengobatan rumah sakit yang sangat mahal. Apakah keputusanku untuk membagi apartmenku dengannya adalah pilihan yang tepat? Aku tidak mungkin membiarkannya tinggal di tempat yang tidak jelas.
“Suzy, sepertinya lowongan kerja ini cocok denganku.” Ujar Jae Joong membuyarkan lamunanku.
“Memangnya pekerjaan seperti apa?” Tanyaku seraya melirik koran lowongan pekerjaan yang digenggamnya.
“Photography. Pekerjaanku dahulu…”
“Kau pandai dalam bidang itu?” Tanyaku tak percaya.
“Ya! Jangan mulai meremehkanku.” Sahutnya berpura-pura memasang tampang kesal.
“Aish~ aku tau…” Aku memandangnya sekilas dan kembali meneguk teh ku yang sudah mulai mendingin. “Jika cocok, coba saja kau pergi untuk mencalonkan diri.”
“Chagiya… Jangan terlalu bersikap dingin dengan diriku…” Ia meletakkan koran yang berada dalam genggamannya dan menyentuh wajahku dengan tangannya yang besar.
Dalam sekejap, aku kembali terdiam. Aku tak mampu menggerakkan tubuhku. Bahkan untuk memalingkan wajahku pun, aku merasa sangat sulit. Tangannya yang besar mengelus pipiku lembut dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Ia mengecup keningku dengan lembut, bibirnya menelusuri setiap lekuk wajahku, menuruni hidungku dan berhenti di depan bibirku. Wajah kami berdekatan, aku merasakan detak jantungku berdebar sangat keras dan cepat.
“Kamu tau, aku sangat menyayangimu. Kumohon, jangan tinggalkan aku…” Bibirnya yang berjarak sangat dekat dengan bibirku, mengucapkan kata-kata itu secara perlahan. Matanya menunjukkan sorot kesedihan saat kata-kata itu meluncur dengan suaranya yang indah.
Ia mengecup bibirku lembut dan menarikku ke dalam pelukannya yang begitu hangat. Aku hanya pasrah saat dirinya memelukku dengan sangat erat, seakan ia menghipnotis seluruh tubuhku dan tak mengizinkan diriku untuk melakukan perlawanan atas semua yang telah ia lakukan. Aroma parfum segera merebak di tubuhku, seluruh gerakan tubuhnya menunjukkan kesedihan yang sangat mendalam. Apa yang sebenarnya telah ia alami selama ini? Mengapa sepertinya kesedihan yang terpancar begitu dalam dan seolah-olah tak ada seorang pun yang dapat mengganti kesedihan itu dengan kebahagiaan.
Aku ingin mencoba mengerti dirinya, mengubah semua kesedihan itu menjadi sebuah kebahagiaan yang tak pernah habis meski dimakan sang waktu. Aku ingin ia selalu mengandalkanku. Aku ingin ia bahagia meski banyak persoalan yang menghalangi rasa bahagia itu. Perasaan apakah ini? Inikah cinta yang sering dikatakan oleh manusia? Apakah aku mengalami apa yang dinamakan dengan cinta? Mengapa cinta itu begitu rumit? Namun, dapatkah diriku memiliki dirinya seutuhnya, meski aku tau diriku bukanlah pacar yang sesungguhnya, namun aku ingin belajar untuk menyayangi dia sepenuh hatiku. Kurasa aku telah jatuh cinta…
@@@@
Suzy menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dalam sekejap aroma parfum khas Jae Joong menyelimuti indra penciumannya. Suzy terdiam menikmati sensasi keharuman sofa itu. Ia memejamkan matanya dan membayangkan sosok lelaki itu. Sudah larut malam dan Jae Joong belum juga kembali. Suzy merasa tubuhnya sangat lelah, matanya terasa berat, pikirannya serasa sudah ingin pergi ke alam mimpi.
“Suzy…” Panggil Jae Joong.
Jae Joong melihat gadis yang dicintainya tengah terlelap dalam balutan piyama berwarna biru. Ia mendekati gadis itu dan mencium keningnya.
“Annyeonghi jumuseyo, Chagiya…”
Lelaki itu duduk di sebelah sofa dan menatap gadis itu.
“Kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Aku memang tidak sesempurna yang kau mau. Namun, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi seperti yang kau inginkan. Aku tidak akan mungkin melepasmu pergi, karena aku sangat mencintai dirimu. Tidak peduli kau mencintaiku atau tidak, tapi diriku akan tetap mencintaimu. Bisakah kau tetap di sampingku? Hanya kau lah kebahagiaanku satu-satunya. Kebahagiaan yang kupunya sementara yang lain telah pergi dari hidupku.” Ujar Jae Joong pelan seraya menggenggam tangan Suzy.
Suzy mendengar semua itu, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Rasa sakit melingkupi perasaannya. Dia hanya mencintai kekasih yang sesungguhnya. Apa dia tidak pernah menyadari bahwa diriku berbeda? Pikirnya dengan sedih. Masih dalam posisi berbaring dan memejamkan matanya, ia hanya bisa merasakan cinta yang hanya dirasakan olehnya.
@@@@
Suzy
Aku terlelap di sini setelah ia mengucapkan semua kata-kata itu. Aku merasa penasaran dengan wanita itu. Siapakah kekasih Jae Joong yang sebenarnya. Apakah aku dan dirinya sangat mirip hingga Jae Joong tak bisa membedakannya?
Aku mengambil dompet yang berada di meja makan, sementara dirinya sedang berada di kamar mandi. Aku membukanya perlahan dan melihat foto seorang perempuan manis yang sama dengan diriku. Sebenarnya siapakah perempuan ini?
Aku mengambil foto itu. Di baliknya tertera tulisan tangan yang rapi dan bertinta hitam.
“Life is the sum of all your choices,
itu yang dikatakan oleh Albert Camus. Dan dalam hidupku aku memilih untuk meninggalkan dirimu, aku takut aku akan kecewa jika aku lebih memilih dirimu dibanding dengan dirinya yang lebih baik dibandingkan denganmu. Kau tau, aku mencintaimu, kau yang paling tau hal itu. Namun, hidup adalah suatu pilihan. Aku ingin memilih yang terbaik untuk diriku. Kau layak mendapatkan yang lebih baik dari diriku. Gomawo untuk semua yang kau berikan dalam hidupku. Akan selalu kukenang. Simpanlah foto ini sebagai kenangan kita.”
Aku terdiam membaca tulisan itu. Perempuan ini meninggalkannya begitu saja. Memangnya apa yang ia harapkan dari seorang Jae Joong?
Aku meletakkan foto itu kembali dan keluar dari apartemen dengan meninggalkan sebuah catatan kecil untuk Jae Joong. Lebih baik aku pergi bekerja terlebih dahulu. Mungkin itu akan membuat diriku menjadi lebih tenang. Aku melangkahkan kakiku ke rumah sakit dan mulai bekerja.
“Suzy!!” Dokter Min Woo memanggilku.
Aku bergegas menghampirinya dengan tampang penuh pertanyaan.
“Waeyo??” Tanyaku cepat.
“Kau tau? Ada seorang tamu mencari lelaki yang baru saja kau tolong kemarin. Hero Jae Joong bukan?”
“Dia ada di mana sekarang?” tanyaku cepat.
“Dia ada di kantorku, kau cepatlah ke sana…” Dokter Min Woo mengisyaratkan untuk cepat mengikutinya pergi ke kantornya.
Aku membuka pintu kantor dokter Min Woo dan menemukan seorang perempuan yang sedang duduk memandangi jendela. Menyadari diriku datang, ia segera berdiri dan membalikkan dirinya. Tatapan mata kami bertemu. Aku melihat wajahnya. Aku menyadari, diriku dan dirinya memiliki banyak sekali kemiripan. Saat melihat dirinya, aku seperti melihat diriku sendiri di pantulan cermin.
Ia tersenyum melihat diriku yang terdiam saat memandang wajahnya.
“Wae? Kenapa kau melihatku seperti itu?” Ia bertanya seraya mengukir senyuman manis di wajah cantiknya.
“Anio…” Aku mengelak dan mencoba memalingkan wajahku.
“Kau heran bukan? Kau heran kenapa kita memiliki wajah yang sangat mirip bahkan dapat dikatakan sama?” Ia mendekati diriku dan menatap mataku.
“Kau hidup sudah cukup nyaman bukan? Tinggal di kahyangan dengan seorang kakek penguasa kahyangan?”
Aku terkejut mendengarnya berkata seperti itu. Bagaimana caranya ia tau bahwa diriku bukanlah manusia seperti dirinya. Namun aku hanya dapat terdiam mendengarnya seperti itu.
“Wae? Mengapa kau hanya diam saja? Perkataanku benar bukan?” Ia tersenyum kembali menatap diriku dengan tatapan tajam.
“Kau tau dari mana?” Tanyaku cepat.
“Mengapa kau datang ke bumi? Kau tidak puas dengan kehidupanmu di kahyangan? Hidupmu bukankah sangat nyaman? Dimanja oleh sang kakek dan hidupmu berkecukupan. Kau bisa makan tanpa usaha apa pun. Berbeda denganku…” Ia mengabaikan pertanyaanku.
“Apa maksudmu berkata seperti itu?!”
“Maksudku? Jangan pura-pura tidak tau apa tujuanku datang ke sini.” Ia mengucapkan kata-kata itu dengan nada ketus.
“Aku memang tidak tau…” Jawabku polos.
“Aku ingin bertemu dengan kekasihku! Mana dia?!” Nadanya berubah menjadi tajam dan matanya memancarkan sorot kebencian yang sangat dalam.
“Kekasihmu? Bukankah kau sudah meninggalkannya??! Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu!” Aku berbalik menatapnya tajam.
“Mwo?! Sebenarnya kau ingin apa dariku? Kau sudah merebut hak kahyangan dariku dan sekarang kau ingin merebut kebahagiaanku?
“Mwo??! Hak kahyangan? Memangnya kau siapa? Lancang sekali kau menuduhku merebut hak kahyangan darimu!”
“Ya! Apakah kau tidak sadar? Dirimu telah merebut semua hak yang seharusnya jadi milikku!”
“Mwo?? Semua hak? Aku saja tidak kenal dengan dirimu! Untuk apa aku merebut semua hakmu?!”
“Kau tidak kenal denganku? Apakah tidak cukup jelas semua kemiripan yang ada antara kau dengan diriku?”
“Aku tidak mengerti…”
“Pabo!! Aku ini kakakmu!!! Aku saudara kembarmu!! Dan kau telah mengambil semua hakku! Sekarang kembalikan Jae Joong padaku!! Meski aku tidak mencintainya, aku tidak akan rela melihatmu bahagia dengan lelaki itu!!”
To Be Continued
