A Chalice of Wine
Chapter 3
The way to love anything is to realize that it might be lost.
“Kau tidak kenal denganku? Apakah tidak cukup jelas semua kemiripan yang ada antara kau dengan diriku?”
“Aku tidak mengerti…”
“Pabo!! Aku ini kakakmu!!! Aku saudara kembarmu!! Dan kau telah mengambil semua hakku! Sekarang kembalikan Jae Joong padaku!! Meski aku tidak mencintainya, aku tidak akan rela melihatmu bahagia dengan lelaki itu!!”
“Mwo?! Kakakku? Onnie? Kau bercanda…”
“Kau tidak percaya? Baiklah… sekarang akan kuberitau sesuatu yang tidak kau mengerti. Kau tau? Mengapa kau harus melalui ujian di bumi untuk mendapatkan gelar malaikat sedangkan teman-temanmu tidak perlu melakukan itu semua?”
“Itu bukan urusanmu!!!” Aku membentaknya.
“Itu karena dirimu bukanlah sepenuhnya malaikat! Kau hanya separuh manusia separuh malaikat. Kau tidak akan pernah mendapat gelar itu jika kau masih memiliki darah manusia di dalam tubuhmu. Oleh karena itu kau harus melalui ujian di bumi. Jika kau berhasil melewatinya, kau akan diubah menjadi malaikat seutuhnya. Namun, jika kau gagal, aku tidak tau apa yang akan terjadi padamu.”
“Kau… Kau jangan asal bicara padaku!! Aku tidak akan percaya padamu begitu saja!”
“Aku tidak asal bicara!” nadanya menunjukkan bahwa dirinya tersinggung dengan kata-kata yang baru saja kuucapkan.
“Baiklah, sekarang kau pergi dari hadapanku!” Aku membentaknya cepat.
“Cepat atau lambat kau akan tau yang sesungguhnya. Kau akan menyadari bahwa diriku tidak pernah berbohong denganmu! Dan aku berharap nasibmu akan sama seperti nasib eomma kita!” Ia menatapku tajam sebentar dan pergi meninggalkan ruangan.
“Mwo?! Eomma??” Baru saja aku ingin meminta penjelasan darinya, namun ia telah pergi meninggalkan aku sendirian di dalam kantor dokter Min Woo.
@@@@
Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu. Ia mengatakan bahwa ia adalah onnie ku? Apakah mungkin aku mempunyai seorang Onnie? Haraboeji tidak pernah memberitaukan hal itu kepadaku. Dan aku hanyalah setengah manusia setengah malaikat? Yang benar saja? Mana yang harus kupercaya? Apakah aku harus mempercayai haraboeji? Tapi, semua perkataan perempuan itu memang masuk akal. Dia bilang ia berharap aku akan berakhir seperti eomma? Apa maksudnya semua itu? Memangnya eomma kenapa? Apakah hal buruk terjadi kepadanya sehingga aku tidak sempat mengenal eomma ku sendiri?
Aku terus memikirkan hal itu. Kepalaku sangat sakit. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku tidak menyangka semua ini begitu terasa sulit.
“Suzy?” Suara Jae Joong membuyarkan lamunanku.
Aku mendongakan kepalaku dan melihat dirinya sedang berdiri di samping sofa.
“Sejak kapan kau ada di situ?” Aku menatap wajahnya.
“Sejak tadi. Aku terus memanggil namamu, tapi kau tidak mendengarnya. Kau sedang memikirkan apa?” Ia menyentuh tanganku.
“Anio… aku hanya berpikir… mungkin aku mengambil tindakan yang kurang tepat saat ini.” Aku menopang daguku dan kembali merenung.
Apakah aku memang mengambil keputusan yang salah? Apakah tindakanku selama ini dapat dikatakan bahwa aku membohongi dirinya?
“Tindakan apa?” Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan duduk di sebelahku.
“Hem… sudahlah. Aku hanya ingin berkata padamu… Jika suatu saat kau merasa dibohongi olehku, yakinlah bahwa aku tidak pernah bermaksud untuk tidak berkata jujur padamu.” Aku membiarkan nada perkataanku datar. Aku tidak mau menunjukkan bahwa diriku memang tidak ingin memberitau apa yang baru saja terjadi denganku. Aku juga tidak ingin menunjukkan bahwa aku sebenarnya sangat berharap bahwa ia mengetahui diriku yang sebenarnya.
“Waeyo? Adakah yang terjadi?” Ia bertanya serius dan menggenggam tanganku.
“Anio.. aku hanya ingin berkata seperti itu. Tak ada maksud apa pun. Kau curiga padaku?” Aku memandangnya dengan senyum yang dibuat-buat.
“Tapi.. kali ini aku ingin bertanya padamu. Tolong jawab pertanyaan ini dengan jujur. Hanya itu yang ingin aku dengar sekarang.”
Aku terdiam mendengar permintaannya. Jangan sampai dirinya bertanya tentang hal itu. Jika itu terjadi, aku tidak akan siap untuk kehilangan dirinya. Namun, aku memberanikan diri untuk menganggukan kepalaku.
“Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan. Aku akan menjawabnya dengan jujur.” Sahutku dengan nada berat. Aku takut. Ternyata aku memang sangat mencintainya. Aku tak rela jika harus kehilangan dirinya. Namun, apakah cintaku ini dapat dibalas olehnya?
“Apakah kau mencintaiku selama ini?” Ia bertanya dengan nada serius. Tak ada kesan yang menunjukkan bahwa ia sedang bercanda denganku.
Apa yang harus kujawab? Haruskah kujawab jujur? Jika aku menjawabnya dengan jujur, dan ia membalas perkataanku, sesungguhnya perkataan itu bukanlah untukku. Aku akan merasa sangat kecewa. Dan hanya kesedihan yang akan aku dapatkan dari kejadian ini. Namun, jika aku berkata tidak jujur padanya, maka aku yakin dia akan merasa sangat sedih. Aku tidak ingin melihat dirinya begitu sedih. Saat melihatnya menatapku dengan wajah sedih, hatiku rasanya sungguh sakit. Aku lebih baik merasakan sakit daripada melihat dia merasakan sakit yang kurasakan.
“Kau sudah tau bukan jawabannya?? Kau ingin menggodaku??” Jawabku seraya mengumbar senyum setulus yang kubisa.
“Tapi kau tidak pernah mengatakannya padaku. Aku tidak merasa yakin dengan hal itu.”
“Apakah cinta harus dikatakan? Bukankah mulut bisa berkata bohong? Mengapa kau lebih percaya jika aku mengatakannya? Kau tau, aku tidak akan mengatakannya. Aku tidak mau mengatakannya..” Aku tersenyum jahil menatapnya.
“~aaa… Wae?? Aku benar-benar ingin mendengarnya. aku sangat mencintaimu. Apa yang kau ragukan dari diriku?”
Apakah aku tidak salah dengar? Apa yang ku ragukan dari dirimu? Aku meragukan cintamu. Cintamu hanya untuk dia, kau menganggap diriku adalah dia. Apakah aku salah jika aku mengharapkan kau menganggapku sebagai diriku sendiri, dan bukan kekasihmu yang telah meninggalkanmu begitu saja?
Aku bangkit dari sofa dan berjalan menjauh. Aku menatap dirinya dan tersenyum.
“Kau ingin tau kenapa aku tidak ingin mengatakannya padamu?”
“Waeyo?”
“Karena aku tidak mau kau menjadi terlalu senang karena perkataanku itu… Hahaha…” Aku tertawa.
Tertawa? Dalam waktu seperti ini? Sampai kapan aku harus bersandiwara seperti ini. Sampai kapan aku harus merasakan ketakutan sedalam ini?
Satu hal yang aku pelajari. Mengumbar tawa yang tak sesuai dengan perasaan bahagia tidaklah mudah, bahkan dapat dikatakan sangatlah sulit. Aku ingin sekali berkata jujur. Namun, separuh diriku tak mengizinkan hal itu terjadi.
“Berhentilah memaksaku…” Aku berkata serius saat dia mulai menghampiriku dan menggenggam tanganku dengan tangan besarnya yang hangat.
“~aish… Aku tau… aku tidak akan memaksamu. Namun, jangan kira aku terima begitu saja. Aku akan menunggumu mengatakan hal itu. Aku ingin sekali mendengarmu mengatakan hal itu meski hanya sekali.” Ia tersenyum. Senyumnya sungguh menggodaku seakan mengajakku untuk jujur padanya. Namun, sekali lagi diriku tidak mengizinkannya.
@@@@
“Suzy… Sebentar lagi waktumu akan tiba untuk kembali ke kahyangan…” Suara seorang perempuan terdengar dari sebelahku.
“Untuk apa kau ke sini?”
“Suzy.. Suzy.. Nama yang bagus bukan? Kita begitu mirip, nama kita pun sama, lahir dari ibu yang sama. Namun, kau lemah… Kau harus akui itu.” Ia tersenyum padaku dan duduk di depanku menatap wajahku.
“Lemah? Apa maksudmu??!” Aku merasa tersinggung saat kata-kata itu keluar dari mulut tajamnya.
“Lemah karena cinta… Cinta buta… Cinta manusia.. Dan seharusnya„ kau tidak boleh ikut campur dalam masalah ini.”
Aku terdiam mendengar ucapannya. Hatiku mengakuinya, aku lemah karena cinta. Cinta manusia yang seharusnya tidak boleh terjadi.
“Kau tau, sebesar apa pun cintamu padanya, tak akan terbalas. Kau hidup dalam kebohongan belaka, kau membohonginya, dan ia akan selalu tetap mencintaiku… Bukan mencintaimu.” Ia tersenyum penuh kemenangan.
“Kenapa sifatmu berbeda jauh denganku? Mengapa kau seperti ini? Apakah kau tidak bisa melihat diriku bahagia?”
“Mengapa aku seperti ini? Pertanyaan yang mudah…” Ia tersenyum menatapku.. “Karena kau merebut semuanya dari hidupku!!! Kau tak tau siapa aku, bahkan aku tetap menganggapmu sebagai adikku, tapi kau malah tidak menganggapku sama sekali. Kau bahkan merebut semuanya dari hidupku! Kau bisa membayangkan betapa bencinya diriku kepadamu??!!”
“Aku tidak pernah bermaksud seperti itu.. Aku tidak tau apa pun…” Aku berusaha membela diri.
“Karena kau tidak tau apa pun, itu sebabnya aku membencimu!!” Ia meneriakkan kata-kata itu di depan mataku.
“Sebentar lagi kebahagiaanmu akan musnah. Kau harus kembali ke kahyangan dan kau tidak akan dapat hidup dengannya. Ternyata aku tidak perlu melakukan apa-apa untuk membuatmu tersiksa. Aku hanya tinggal diam dan menyaksikan kalian berpisah.”
Ia beranjak pergi selepas menyelesaikan kalimatnya.
Dia benar, bagaimana pun aku berusaha untuk mempertahankannya, pada akhirnya pun aku harus melepasnya.
Aku pulang dengan perasaan yang tak karuan. Tak terasa, hidup dengannya selama 10 bulan ini benar-benar membuatku merasakan bahagia, meskipun diriku terus menerus dihantui rasa takut yang berkepanjangan. Dan tinggal seminggu lagi aku harus pulang ke kahyangan, bagaimana caranya aku mengucapkan terima kasih padanya?
Aku mengeluarkan kotak berwarna coklat. Saat ini aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan. Mungkin aku bisa menemukan jawabannya saat aku membuka kotak ini.
Perlahan aku membukanya. Ada banyak surat yang diikat rapi, juga banyak foto eomma dengan seorang lelaki. Aku membuka sebuah surat terakhir yang ditulis oleh eomma.
“Cinta memang tidak butuh balasan. Namun, saat aku mencintainya seluruh tubuhku, jiwa dan ragaku juga merasakannya. Kehadiran sebuah cinta benar-benar menyenangkan. Namun, sepertinya cinta pun butuh pengorbanan. Mengorbankan semua hak istimewa malaikatku dan menukarkannya menjadi manusia bukanlah hal yang wajar. Namun sekali aku mencintai dia, maka seumur hidup, cintaku akan tetap kupertahankan. Meski appa akan sangat marah, namun aku ingin mencintainya.. Cinta butuh pengorbanan. Aku tidak bodoh, aku hanya mencoba menjadi seseorang yang dapat mencintai lelaki setulus hatiku.”
@@@@
1 minggu kemudian…
“Kau telah melewati hari-hari ini cukup sulit. Sekarang kau bisa kembali ke kahyangan dengan gelar barumu…” Ucap haraboeji kepadaku.
“Haraboeji, sekarang yang kuingini bukanlah menjadi malaikat dengan gelar baruku.”
“Lalu, apa maumu?” Tanyanya dengan nada curiga.
“Haraboeji, aku telah membaca surat dari eomma. Kali ini, aku ingin sekali hidup sebagai manusia seutuhnya.” Dengan nada suara yang mantap, aku mengucapkan setiap kata yang mungkin akan membuat haraboeji kecewa.
Namun, haraboeji hanya terdiam. Ia terdiam sangat lama hingga aku khawatir bahwa ia tidak akan membiarkanku begitu saja. Atau memang itu yang sedang ia pikirkan? Aku bertanya-tanya dalam hati.
“Mengapa kau ingin menjadi manusia? Apakah kau mencintai seorang lelaki?” Tanyanya kepadaku dengan nada tenang yang dibuat-buat.
“Aku memang mencintai seorang lelaki. Namun, aku tau lelaki itu mungkin tidak pernah mencintaiku.” Aku berkata dengan nada rendah seakan aku tidak mau mengakui itu semua.
“Lalu, kenapa kau tetap ingin menjadi manusia?” Tanya haraboeji menatap kedua mataku dengan tajam.
“Karena, aku ingin tetap mencintainya, tak peduli apakah ia mencintaiku ataukah tidak. Cinta tidak pernah menuntut balasan. Meski hatiku akan sakit, namun diriku akan tetap bertahan.” Ucapku dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Kau ingin menjadi seperti ibumu?!” Kali ini nada sang haraboeji terdengar meninggi.
“Sepertinya menyenangkan menjadi eomma.” Aku asal bicara seraya memalingkan mukaku dari haraboeji.
“menyenangkan??!” Haraboeji terdengar semakin emosi. “Kau tau?! Lelaki itu meninggalkannya!! Ia meninggalkan ibumu bahkan saat dia sudah sekarat dan hampir meninggal!! Jika saja lelaki itu mencintainya, eomma mu pasti masih hidup!!”
Aku memandang haraboeji, terkejut dengan kenyataan yang baru saja diucapkan.
“Ibumu mengorbankan hak istimewanya sebagai malaikat. Ia memiliki anak, yaitu kamu, dan saudara kembarmu. Ia merasa lelaki itu juga mencintainya karena mereka sudah memiliki putri yang sempurna. Namun, kenyataannya, semuanya itu di luar dugaan. Saat ibumu sudah menjalani proses perubahan menjadi manusia, ternyata lelaki itu tidak mencintainya. Saat itulah, saat tidak ada balasan cinta, maka ibumu mati. Eomma mu mati karena ulahnya!!” Haraboeji menjelaskan dengan penuh amarah.
Aku terdiam seribu bahasa, tak mampu mengungkapkan seluruh perasaanku. Haraboeji mengeluarkan sebilah pisau bertanda merah.
“Jika kau ingin menjadi manusia, pisau ini harus mengiris pergelangan tanganmu. Denyut nadimu dan detak jantungmu harus berhenti terlebih dahulu. Jika lelaki yang kau cintai ternyata memiliki perasaan yang sama denganmu, maka kau akan hidup kembali sebagai seorang manusia. Namun, jika lelaki itu ternyata tidak mencintai dirimu, maka hidupmu berakhir sampai di sini. Dan itulah yang eomma mu alami.”
Aku terdiam sebentar dan bepikir keras.
“Baiklah, berikan pisau itu padaku haraboeji.” Aku mengulurkan tanganku dan meminta pisau itu.
“Apakah aku harus melakukannya di depan lelaki itu?”
“Tidak perlu. Tapi aku mohon. Lebih baik kau kembali ke kahyangan bersama denganku. Lebih baik seperti itu. Jangan ulangi kesalahan eomma mu.” Haraboeji terdengar sangat sedih.
Aku sempat membiarkan diriku kembali memikirkan semuanya. Namun aku tak mungkin hanya berdiam diri saja dan kembali ke kahyangan. Aku mencintai dirinya.
“Haraboeji, mianhe.. Untuk semua yang telah aku lakukan dan membuatmu begitu kecewa. Dan gamshanida karena kau telah merawatku hingga saat ini.”
Aku mengacungkan pisau itu begitu tinggi. Haraboeji menahan semua kesedihannya. Amarah yang ada telah bercampur dengan kesedihan. Ia tidak bisa menahanku karena ia hanyalah haraboejiku dan ia tidak memiliki hak untuk menjatuhkan semua pilihannya kepadaku.
“Changkaman!!!” Suara itu terdengar familiar di telingaku. Namun semuanya sudah terlambat, pisau itu sudah menyentuh pergelangan tanganku dan mengirisnya.
@@@@
Jae Joong
Diriku sangat lelah. Dimana Suzy? Aku membutuhkannya sekarang. Aku mencarinya di dalam apartment, namun aku tetap tidak bisa menemukan dirinya. Perasaanku mulai tidak nyaman. Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku menemukan sepucuk surat di meja makan. Otakku memerintahkan tanganku untuk cepat membukanya. Saat aku membukanya, terpampang tulisan tangan Suzy yang begitu rapi.
Dear, Kim Jae Joong
Maafkan aku telah membohongimu selama ini. Aku pernah berkata padamu bahwa aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Namun perasaanku padamu tidak membiarkan diriku berkata jujur bahwa aku bukanlah kekasihmu. Kekasihmu adalah saudara kembarku. Awalnya aku tidak tau mengenai hal ini. Namun, aku bertemu dengannya dan kami mulai berbincang tentang hal ini.
Aku tau kau hanya mencintai dia, oleh karena itu aku tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku padamu, karena aku takut kau membalas semua perkataanku dan semua perkataanmu sebenarnya bukanlah untukku, melainkan untuk kekasihmu. Aku benar-benar minta maaf akan hal ini. Dan sekarang, kau kejarlah dia. Aku akan berusaha untuk merelakanmu.
Namun, hatiku masih tetap berharap dirimu akan mencintaiku seutuhnya. Oleh karena itu, jika kau ingin merubah pemikiranku untuk meninggalkanmu, carilah aku sebisa dirimu. Namun, jika kau memang tidak pernah berniat mencegah kepergianku, jangan sekali-sekali kau datang temui aku. Dan pada akhirnya aku mengucapkan terima kasih padamu yang telah mengisi setiap hari-hariku menjadi lebih berharga dan menyenangkan dari hari ke hari. Kau tau, aku benar-benar mencintai dirimu, terlebih saat aku sadar bahwa mungkin aku akan kehilangan dirimu untuk selamanya. Oleh karena itu semua pilihan ada dalam tanganmu.
-Suzy-
@@@@
Dengan cepat Jae Joong menyusul Suzy yang tengah mengiris pergelangan tangannya.
“Aku mohon jangan lakukan ini!!!” Jae Joong berteriak di telinga Suzy.
“Ya!!! mengapa kau begitu bodoh?! Sekarang aku tau, kau bukanlah kekasihku..” Jae Joong yang panik tidak bisa berbuat apa pun yang berarti.
Denyut nadi Suzy semakin melambat dan akhirnya berhenti, detak jantungnya pun tak lagi terdengar.
“Pabo!!! Aku belum selesai bicara… Aku mencintaimu, Suzy.. aku selalu mencintai dirimu. Dari awal pertama kita bertemu hingga detik ini, oleh karena itu, jangan tinggalkan aku Suzy… Saranghae…”
Teriakan terakhir Jae Joong membuat Suzy membuka matanya.
“Gamshanida, Jae Joong…”
Eoryeodo apeun geon ttok gata
Sesangeul jal moreundago apeungeol moreujin anha
Even though I’m young, the pain is the same
Just because I don’t know the world very well
Doesn’t mean that I don’t know pain
Gwaenchana jil georago wae geojitmareul hae
Ireohke apeun gaseumi eotteohke shwipge natgesseo
Neo eobshi eotteohke salgesseo geuraeseo nan
Jugeodo mot bonae naega eotteohke neol bonae
Garyeo geodeun tteonaryeo geodeun nae gaseum gochyeo nae
Apeuji anhke na saragal surado itge
Andwindamyeon eochapi ussal geo
Jugeodo mot bonae
Why do you lie, saying it’ll be okay?
How will my heart that hurts this much
Be healed so easily?
How will I live without you?
That’s why I
Can’t let you go, even if I die
How am I suppose to let you go?
Whether you go or leave, fix my heart
If you can’t fix it so that I won’t be in pain
So that I can at least live
I wouldn’t be able to live anyway
I can’t let you go, even if I die
Amuri niga nal milchyeodo kkeutkkaji butjabeul geoya
Eodido gaji mothage
No matter how much you push me away
I’ll hold onto you until the end
So that you won’t be able to go anywhere
Jeongmal gal georamyeon geojitmareul hae
Naeil dashi manna jago useu myeonseo bojago
He eojijan mareul nong damirago animyeon nan
If you’re really going to leave, then lie
That we should meet again tomorrow
That we should meet as we smile
If breaking up wasn’t a joke, then I
Jugeodo mot bonae naega eotteohke neol bonae
Garyeo geodeun tteonaryeo geodeun nae gaseum gochyeo nae
Apeuji anhke na saragal surado itge
Andwindamyeon eochapi ussal geo
Jugeodo mot bonae
Can’t let you go, even if I die
How am I suppose to let you go?
Whether you go or leave, fix my heart
If you can’t fix it so that I won’t be in pain
So that I can at least live
I wouldn’t be able to live anyway
I can’t let you go, even if I die
Geu manheun shiganeul hamkke gyeokkeot neunde
Ijewa eotteohke honja sallan geoya
Geureohken mothae nan mothae
We went through so much time together
How are you telling me to live by myself now?
I can’t do that, I can’t
THE END
