Everlasting Love
Everlasting Love

Cast(s): Park Jae Bum, Min Jung Hwang
Length: Oneshot 2999 words
Rate : general to Pg-13
Genre(s):Drama
Indahnya taman itu pernah menjadi saksi setiap keajaiban dari kebahagiaan seorang gadis, bahkan setiap tetes air mata yang mengalir di wajahnya tak jarang jatuh di setiap jengkal tanah itu. Ukiran kenangan indah terpampang jelas jauh sebelum kehancuran melanda kehidupannya.
*Flashback*
Seorang gadis berumur 7 tahun menari-nari gembira. Senyumnya menghiasi wajah mungilnya. Namun, itu semua tak mampu bertahan lama. Ia terduduk di atas ayunan. Ia mulai memaksakan setiap senyuman yang mulai pudar.
“eomma…” bisiknya kecil.
Namun, tak seorang pun datang untuk menghampiri dan memeluknya. Kesedihan terpancar dari wajah gadis tak bersalah itu.
“appa…” Desiran angin menyampaikan dalamnya kesepian dan kerinduan tak berujung.
Air mata turun perlahan. Kekosongan ini membuat hidupnya terlalu sulit. Hanya seorang gadis cilik, namun penderitaan itu harus ia alami juga. Kini wajahnya terlihat sembab. Dalam sekejap tawa itu hilang diiringi tangisan pilu menyesakkan dada.
“Untuk apa kau menangisi seseorang yang sudah meninggal??” Seorang wanita paruh baya menariktangan gadis cilik itu dengan kasar dan menyeretnya kembali ke rumah.
Gadis itu hanya terdiam dan menghapus setiap derai air matanya. Meskipun begitu setiap kesedihan yang terukir di hatinya tetap tak dapat terhapus begitu saja.
“Jung Hwang, kau tidak perlu makan. Lebih baik kau menjaga timbanganmu. Tak baik jika tubuhmu menjadi gemuk!” Seru wanita itu seraya mengembalikan sepiring nasi yang baru saja diambil Jung Hwang.
“Tapi, aku lapar.Berikan aku sesuap saja.” Pinta Jung Hwang mengharap belas kasihan.
“Sudah kubilang jatah makanmu hanyalah 7 suap nasi setiap hari.”
*end of flashback*
Terhitung hari sejak saat itu, hidupnya tak pernah diiringi tawa. Wajahnya tak pernah terlihat ceria bahkan sedetik pun. Sebuah hati tak pernah merasakan cinta, hanya kesedihan yang terukir di setiap jalan hidupnya.
@@@@
Musim gugur, 21 September 1910
DHUARR!!!!!!
Sebuah bom memporak porandakan sebuah gedung tinggi. Ratusan pesawat tempur Jepang melayang di udara. Kepulan asap membumbung tinggi. Langit tak lagi berwarna biru, melainkan hitam pekat disusul suara tembakan bertubi-tubi dari semua arah. Tangisan,jeritan meraung tak terkendali. Dari arah selatan,suara bising memekakkan telinga. Mobil tempur datang, semua pasukan asing berlari tergesa-gesa mencari mangsa. Peluru berdesing tajam membunuh setiap orang tak berdosa. Seorang gadis mencari perlindungan di antara puing-puing rumah yang hancur. Mayat bergelimpangan di tengah jalan dan terlindas ribuan mobil tempur yang lewat.
“Hey You!!!” Seru seorang tentara asing berlari menghampiri gadis itu. Anehnya, wajahnya tak menunjukkan adanya darah keturunan jepang mengalir dalam tubuhnya, tidak seperti tentara yang biasa terlihat. Namun, tetap saja gadis itu tak pernah berhenti waspada.
Dia tak punya waktu lagi untuk berlari menghindar. Kakinya penuh luka, tak mendukung dirinya untuk melarikan diri.
Jung Hwang
“Follow me!!!” Serunya seraya menarik tanganku dan berlari menghampiri salah satu mobil.
Aku tak mengerti dengan apa yang ia katakan, namun aku mengikutinya menaiki mobil itu. Jantungku berdegup kencang, ketakutan melanda diriku. Kejadian apa lagi yang harus akuhadapi.
“Wear this!” Ia menyerahkan topinya padaku. Tanpa sepatah kata apa pun aku memakainya. Aku menundukkan kepalaku. Air mata mulai turun membasahi wajahku.
Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah tak berpenghuni. Aku mengikuti pria asing itu masuk kedalam rumah. Bau apek berlomba-lomba keluar ketika suara berdecit muncul disusul terbukanya pintu depan. Debu-debu beterbangan menggelitik hidungku. Ia melepaskan genggaman tangannya dan menyuruhku untuk diam. Ia membiarkanku berjalan melihat isi rumah itu.
“My name is Marcelo Nicholls Evander.” Pria asing itu kembali berkata-kata dengan bahasa yang tak kumengerti. Melihatku tercengang, akhirnya ia berdiri menghampiriku dan tersenyum menatapku. Ketakutanku sirna seketika saat senyum itu mengukir ketampanan wajahnya.
“My name is Marcelo Nicholls Evander.” Pria itu mengulang kembali kata-kata terakhirnya seraya menunjuk dirinya sendiri. Ia menyodorkan tangan kanannya padaku. Sepertinya iaingin berkenalan denganku. Akhirnya aku memutuskan untuk tersenyum menyambutnya setelah sekian lama aku tak mengukir senyum di wajahku.
Aku menyambut uluran tangannya.
“Jung Hwang imnida…” ucapku seraya menunjuk diriku sendiri.
Ia mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya ia mengerti kata-kataku. Ia menggumamkan namaku dan tersenyum. Namun, sama seperti dulu, kali ini pun senyumku tak mampu bertahan lama. Dalam waktu singkat, aku merasakan kepalaku pusing dan sekelilingku berubah gelap.
Nicholls
“Jung Hwang??”Panggilku terkejut ketika tubuh gadis cantik itu jatuh lemas di atas pangkuanku.
Aku menyentuh keningnya, panas dan denyut nadinya sangat lemah. Aku menggendongnya menuju sofa di dekatku. Bagaimana ini? Kalau aku memanggil dokter setempat, bisa-bisa aku tertangkap karena diam-diam telah melindungi dia. Aku mengambil ranselku dan mengambil kotak obatku. Aku membukanya cepat dan mencari obat penurun panas. Air mineral persediaanku tidaklah banyak, namun tidak masalah bagiku asalkan dia bisa sembuh.
Aku duduk berlutut di sebelah sofa dan mengompres keningnya dengan handuk basah. Ada apa dengannya. Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku kembali memeriksa denyut nadinya, sangat lambat, tidak seperti denyut nadiku. Aku mengamatinya. Di setiap jengkal wajahnya menunjukkan penderitaan yang sangat dalam. Tubuhnya sangat kurus hingga kurasa ia kesulitan untuk mendapatkan sesuap nasi.
Aku menunggunya dalam diam, namun hatiku sangat khawatir saat melihat dia belum juga bangun dari tidurnya. Ini sudah 6 jam berlalu, namun mengapa ia tak juga sadarkan diri? Apakah dia tau bahwa aku sangat mengkhawatirkannya? Setiap 5 menit, aku memeriksa suhu tubuhnya dan denyut nadinya. Namun, tak sedikit pun keadaannya membuatku bernafas lega. Aku memutuskan untuk mengambil resiko. Mungkin aku dapat menyangkal dari setiap pertanyaan yang akan dilontarkan.
Aku tergesa-gesa membawa seorang dokter. Bukan dokter terbaik seperti yang aku inginkan, namun ini cukup aman untuk kupercaya.
Dengan alat kedokteran yang terbilang sangat minim, dokter itu bekerja sesuai keinginanku.Mengukur tensi darah, suhu tubuh denyut nadi dan semua yang diperlukan. Dengan kesabaran yang cukup tinggi, aku menunggu hingga pemeriksaan itu selesai.
“Bagaimana keadaannya??” Tanyaku dengan wajah cemas.
“Buruk, jika keadaannya terus seperti ini, tak lama lagi ia akan meregang nyawa.” Wajah sangdokter menunjukkan keseriusan dari setiap kata yang ia ucapkan.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” Tanyaku waswas.
“Ia kekurangan asupan makan. Denyut nadinya hanya 34 per menit, sedangkan denyut nadi normal mencapai 60 sampai 80 per menit. Dan ia terkena aritmia, gangguan yangmenyebabkan jantungnya berdenyut tidak teratur. Tulangnya terlihat sangat rapuh. Kemungkinan besar ia mengalami anoreksia nervosa, karena umumnya gadis yang mengalami penyakit seperti ini memiliki alasan yang sama.” Sang dokter berbicara panjang lebar padaku.
“Anoreksia Nervosa?” Aku mengulangi kata-kata terakhirnya.
“Enggan makan karena ketakutan gemuk yang tidak masuk akal.”
Aku terdiam seribu kata. Bagaimana ia bisa seperti ini di saat perang terjadi?
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Cukup dengan memberinya makan sehari 3 kali dan seharusnya ia mendapatkan makanan bergizi.Namun di saat perang seperti ini tidaklah mudah untuk mendapatkan semua yang dibutuhkannya. Harusnya kuberi ia obat, namun kau tau, aku tidak bisa meramu obat karena kita kekurangan bahan baku.”Sang dokter menghela nafas berat.
Jung Hwang
Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri? Mengapa aku masih hidup? Perlahan aku membuka mataku.Pertama kali yang kulihat hanyalah sebuah atap rumah. Namun, ini bukanlah rumahku. Aku di mana? Ratusan pertanyaan muncul di benakku. Aku duduk tegak memandang sekelilingku. Rasanya sangat asing. Aku berpikir cukup lama.Bagaimana bisa aku berada di tempat seperti ini?
Otakku sibuk berputar mengingat kembali apa yang terjadi hingga aku tak sadar seseorang sudah berada di depanku.
“You eat this.”Ucapnya singkat seraya memberikanku nasi kotak.
Dengan nasi kotak di tangannya, aku jadi mengerti apa yang ia inginkan. Aku menggelengkan kepalaku. Aku masih ingat, pagi ini aku sudah memakan 7 suap nasi. Ekspresi mukanya seketika langsung berubah saat melihatku menolak pemberiannya.
“You must eat!! Or you will die now!!” Ia berteriak ke arahku. Namun aku tidak mengerti dengan semua kata-katanya. Aku hanya menunduk tak berani melihat wajahnya.
Seseorang datang menghampiri pria itu. Dan berbisik padanya. Perlahan pria itu mengangguk danwajahnya kembali ramah. Tak berapa lama kemudian orang itu berbalik menghampiriku.
“Jung Hwang, kau harus makan.” Ternyata orang itu mengerti bahasa korea.
“Aku tidak bisa makan sekarang. Jatahku hanya 7 suap nasi sehari.”
“Siapa yang tidak memperbolehkanmu makan lebih dari 7 suap nasi? Wae??” Tanyanya lagi padaku.
“Aku harus menjaga berat badanku, perempuan pengganti eomma berkata seperti itu. Atau aku akan kena marah dan tidak boleh makan seharian.” Jelasku memaksakan senyum.
“Sekarang kau boleh makan. Disini tidak ada perempuan itu.” Ia berkata seolah-olah itu merupakan hal yang mudah bagiku untuk melahap makanan itu, meski aku tau tubuhku membutuhkannya dan aku sangat menginginkannya.
“Aku tetap tidak bisa, sudah hampir 11 tahun aku seperti itu.” Jawabku dengan nada menyesal.
Sepertinya orang itu kehilangan akal. Ia terdiam dan menghampiri pria itu. Kali ini sang pria menyerah dengan kemauanku.
“Oc, I understandif you dont want to eat, but you must drink this.” Ucapnya seraya menyodorkan segelas air putih dan 1 tablet obat.
Aku pun mengambil air dan obat itu. Aku meneguknya perlahan.
@@@@
“Dia tidak akansembuh jika ia hanya minum obat dan tidak memperbaiki pola makannya.” Sang dokter menemuiku setelah memeriksa kembali keadaan Jung Hwang.
“Aku akan mencoba untuk membujuknya.”
“Kau harus mempelajari bahasa Korea agar bisa berkomunikasi dengannya.”
“Bagaimana mungkin?Jika otoosan tau tentang hal ini, ia akan marah besar! Ia sama sekali tidak ingin aku untuk belajar bahasa Korea.”
“Kau datang untuk berperang bukan demi negaramu, tapi demi negara otoosan mu. Dan sekarang kau juga tidak ingin merasakan kebebasanmu sendiri hanya karena larangan otoosan muyang bahkan bukan otoosan kandung??”
“Tapi, ini semua untuk mom. Dia akan sedih jika melihatku dari atas kalau aku tidak menuruti apakata otoosan. Walaupun otoosan bukanlah otoosan kandungku, aku harus menghormatinya.”
“Asalkan kau bisa berkomunikasi dengannya, itu sudah cukup. Jika kau ingin dia sembuh, maka kau harus melakukan suatu pengorbanan untuknya.Pilihan tergantung pada dirimu.”
“Kau yakin dia akan lebih cepat sembuh?”
“Aku yakin keadaannya akan lebih baik dari sekarang.”
“Baiklah, aku akan mencobanya.” Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil resiko.
Setiap malam aku menghafal setiap huruf dasar. Aku belajar berkomunikasi dan mencoba berbicara dengan Jung Hwang. Setiap kali aku salah, ia hanya tertawa dan mengulangi cara pengucapannya. Saat tersenyum, kecantikan alaminya selalu memancar dari wajahnya. Selama ini kecantikannya tertutupi oleh penderitaannya. Aku sungguh ingin melihat dirinya bersinar tanpa penderitaan sedikit pun.
Hari demi hari kucoba lalui. Akhirnya aku sudah mulai bisa berkomunikasi dengan baik dalam bahasa korea.Perasaanku padanya juga semakin dalam. Sekarang aku dapat mengenalnya lebih baik.
@@@@
Jung Hwang
Hampir setahun dia berusaha demi aku. Membujukku makan teratur dan minum obat agar aku tidak sering jatuh pingsan. Jarang pergi keluar hanya untuk menjagaku. Bahkan membiarkan dirinya dimarahi karena selalu terlambat untuk bertugas. Tanpaku sadari perlahan rasa sayang itu muncul. Rasa ingin membuatnya bahagia, ingin membuatnya selalu tersenyum bahagia, ingin melindunginya dengan segenap kekuatanku. Apa yang dapat kulakukan untuknya?
“Jung Hwang,makanlah.” Nicholls mencoba membujukku lagi.
“Nicholls…” Aku mencoba menolak pemberiannya.
Aku berpikir sejenak. Nicholls? Sebenarnya itu nama yang sangat bagus, namun aku ingin sekali memanggil namanya dalam bahasa Korea.
“Aku akan makan dengan 1 syarat.” Aku tersenyum jahil menatapnya.
“Syarat??” Tanyanya penasaran.
“Kau harus mempunyai nama Korea.”
“Mwo??”
Aku tersenyum saat wajahnya menatapku dengan serius.
“Ottoke??” Tanyaku lagi.
“Tapi kau harusjanji bahwa kau akan makan.” Nicholls mengacak-acak rambutku.
Aku mengangguk dan membuat ikatan perjanjian dengan jari kelingkingku.
“Park Jae Bum,ottoke??” Tanyaku meminta pendapat.
“kenapa kau memilih nama itu??”
“Karena aku ingin memanggilmu dengan nama itu.” Jawabku tersenyum.
“Arasso, Jae Bum imnida.” Ia tersenyum seraya mengulurkan tangannya.
“Arasso…” Aku menjabat tangannya.
“Berarti, saat aku pulang dan membawa makanan, kau harus makan sampai habis.” Ia tersenyum gembira. Aku tak dapat menahan kekagumanku akan kebaikannya saat dia tersenyum seperti itu padaku.
Ia pamit padaku dan pergi. Aku sungguh penasaran dengan pekerjaannya sebagai tentara selama ini. Maka dari itu, aku memutuskan untuk pergi mengikutinya.
Ia sampai di sebuah pondok, sepertinya itu adalah tempat ia biasa makan bersama teman-temannya. Namun, ia tidak makan di sana,ia hanya mengambil nasi kotak dan pergi dari tempat itu. Aku tau itu merupakan konsumsi makanan yang diberikan untuk para tentara. Aku baru sadar, ternyata selama ini ia memberikannya padaku. Namun, aku tidak ingin makan meskipun ia sudah membujukku sampai makanan itu basi. Aku sungguh menyesal untuk itu.
Sekarang. ia pergi ke sebuah markas. Sepertinya ia bekerja di sana. Tapi, mengapa tidak ada satu orang pun yang berada di sana?Aku mulai penasaran. Aku mengintip dari balik jendela markas. Aku tau itu tidak aman, namun aku sangat penasaran dengan apa yang dilakukannya.
Jae Bum sepertinya sangat berhati-hati saat ia membuka sebuah tas yang tergeletak di sana. Aku terus memperhatikannya. Ternyata ia mengambil 1 bungkus obat yang tidak asing bagiku.Tidak salah lagi, itu adalah obat yang selama ini ia berikan padaku. Aku ingat saat aku tidak ingin meminum obat itu, sampai-sampai aku membuangnya saat dia tidak ada. Namun, ia memperolehnya dengan cara seperti ini. Bagaimana kalau perbuatannya itu terbongkar oleh salah satu bahkan semua temannya?
Aku berjalan pulang. Aku tertunduk lemas mengetahui semuanya itu. Aku sungguh tak menyadari kejamnya diriku selama ini terhadap dirinya. Ia sungguh ingin diriku untuk sembuh sampai ia mengorbankan semuanya untukku, mengambil setiap resiko yang ada hanya untukku, namun aku buta dengan semuanya itu. Aku menyia-nyiakan setiap kerja kerasnya untukku. Bahkan aku mempersulit dirinya selama ini. Mengapa aku tidak menyadarinya?
Air mataku mengalir, sudah berapa lama aku tidak merasakan kasih sayang yang begitu besar? Aku sungguh sedih, mengapa aku begitu bodoh? Aku menangis terisak. Meskipun dia tau bahwa aku tidak akan bisa sembuh jika pola makanku tidak berubah, ia tetap memberiku obat.
Aku mendengar derap langkah kaki mendekat. Mungkin itu Jae Bum. Aku akan membayar semua yang telah aku lakukan selama ini. Aku akan berusaha untuk sembuh. Hanya untuk dirinya.Mianhe, Jae Bum…
Aku berlari ke arah pintu dan membukanya cepat.
Namun„ bukan wajahJae Bum yang terlihat di depan mataku, melainkan 5 tentara asing dengan senjata di tangannya. Dengan wajah ketakutan aku mundur cepat. Mereka langsung mengikat tanganku dengan tali dan membanting tubuhku hingga terjatuh ke lantai. Akumeringis kesakitan.
“Di mana Nicholls??!!” Tanya salah satu tentara itu dalam bahasa Korea dengan logat Jepang yang sangat kental. Aku hanya tertunduk, air mataku mengalir deras. Tak ada sedikit pun keberanian yang ada dalam diriku.
“Jae Bum… Tolong aku…” Aku memanggilnya dalam hati. Tanganku gemetar hebat, suasana tegang meliputi rumah itu.
@@@@
Jae Bum
Mendadak rasa sesak memenuhi seluruh tubuhku. Rasa khawatirku datang tanpa permisi, perasaanku menjadi tidak karuan. Ada apa dengan Jung Hwang? Aku mulai merasakan darahku mengalir lebih cepat.Secepat mungkin aku berlari pulang.
Sesampainya didepan rumah, aku melihat mobil tentara dengan pintu rumah terbuka. Jelas semuanya sudah terbongkar. Namun, aku tidak ingin menyerah begitu saja.Diam-diam aku mengambil senjata dengan peluru bius yang sengaja kusembunyikan di belakang rumah. Secepat mungkin aku menyelinap dan membius satu per satu tentara yang ada.
Setelah semuanya pingsan, aku tergesa-gesa melepaskan tali yang mengikat tangan Jung Hwang.Wajahnya kusut, ketakutan masih terpancar dari kedua matanya. Ia memelukku dan menangis dalam diam. Aku menenangkannya dan menopangnya pergi dari tempat itu.
“mianhe Jae Bum…”Isaknya dalam pelukanku.
“Wae??” Aku tak mengerti mengapa ia meminta maaf padaku.
“Aku tidak melihat pengorbananmu, aku hanya menyulitkanmu.”
“Tidak ada yang berkata seperti itu. Sudahlah, sekarang kita harus mencari cara untuk pergi dari Seoul sekarang.”Aku menghapus air mata di pipinya.
Kemungkinannya sangat kecil untuk pergi dari sini. Kita hanya bisa berharap agar perang ini segera berakhir. Andai kita bertemu di situasi yang berbeda, aku yakin kita bisa bahagia. Karena aku tau hatimu dan hatiku telah menyatu tanpa disadari. Bertemu denganmu adalah hal terindah dalam hidupku. Dirimu mengisi setiap bagian kehidupanku, membuat kehidupanku begitu berarti. Membuat diriku begitu berguna untuk orang yang sangat kusayangi. Aku akan melakukan apa pun untukmu,bahkan jika aku harus mati saat ini juga, aku akan melakukannya asal kau bahagia.
@@@@
“Itu mereka!!!!”Seru salah seorang tentara asing seraya berlari mendekati Jung Hwang dan Jae Bum.
Secepat mungkin mereka berusaha menghindar dari tentara asing itu. Namun, apalah daya mereka.Jumlah yang tak sebanding membuat mereka harus bertekuk lutut di hadapan tentara-tentara itu.
Dengan tangan terikat mereka dibawa ke markas.
“Kau tau apa yang telah kau lakukan??” Tanya seorang pria dewasa di balik seragam, jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemimpin.
“Aku tau otoosan…”Jae Bum menunduk tak berani melihat otoosan nya.
“Lihatlah!! Sekarang kau sudah bisa menentang perintah otoosan!! Jika tau akan seperti ini, aku tidak akan membawamu pergi dari Amerika untuk membela negara Jepang!! Apakah kamu tidak sadar bahwa kamua adalah tentara pilihan?? Bukankah aku tidak memperbolehkanmu untuk belajar bahasa mereka? Siapa yang mengajarkanmu berbicara bahasa Korea? Apakah perempuan ini?” Bentak sang otoosan seraya menunjuk Jung Hwang
“Otoosan, jangan sakiti dia.” Pinta Jae Bum.
“Kau mencintai dia??!! Kau tau apa hukumannya jika kau mencintai orang jajahan kita?”
“Aku tau otoosan, tapi aku mencintai dia.” Jae Bum menjawab mantap.
“Kau harus meninggalkannya!!” Seru otoosan.
“Tidak bisa, lebih baik aku mati…” Jae Bum menatap sang otoosan dengan wajah sedih.
@@@@
Jung Hwang
“Kau tidak boleh meninggalkanku sendirian, Jae Bum.” Isakku seraya memeluknya.
“Besok pagi, akuharus melakukan pengorbanan terakhirku untukmu. Kau harus jaga dirimubaik-baik.” Jae Bum mengecup keningku.
“Jae, aku mohon, jangan tinggalkan aku.”
Musim gugur, 12 September 1911
Daun-daun berguguran menunjukkan kehadiran musim gugur, namun pagi ini juga langit menunjukkan perasaanku. Hitam kelam, bahkan burung pun tak ingin bernyanyi. Aku melihat tempat di mana Jae akan pergi untuk selamanya. Benda tajam berada tepatdi atas kepala Jae Bum. Aku menangis terisak. Musim gugur yang mempertemukan kita bersama, musim gugur jugalah yang mengakhiri kebersamaan cinta kita.
“Jung Hwang, aku begitu mencintaimu. Jika pilihanku hanya berhenti mencintaimu atau mati, aku lebih memilih untuk mati. Hatiku telah menjadi milikmu seutuhnya. Jika aku tidak menjalani hukuman ini, maka kau yang akan menggantikanku. Aku tidak ingin hal itu terjadi…”
Jae Bum mengucapkan kata-kata terakhirnya padaku. Hatiku terlalu sedih untuk mendengar semua itu.Telingaku tertutup dari dunia luar saat ini. Suara hatiku menangis untuk setiapkesalahan yang telah kuperbuat padanya.
3…
Suara salah seorang tentara memberikan aba-aba mulai terdengar. Dan saat hitungan mundur itu berakhir, maka benda itu akan jatuh dan memenggal kepala Jae Bum. Jika dia pergi, maka hidupku tidak akan berarti lagi.
2…
Jika semua sudah tidak berarti lagi, untuk apa aku hidup di dunia yang kejam ini?
1…
Aku berlari secepat mungkin ke arah Jae Bum, memeluknya dan menyentuh kepalanya dengan kepalaku.Air mataku mengalir… Saranghae Jae Bum
BRAK!!!!
Benda itu terjatuh tepat setelah Jung Hwang mengatakan kata-kata terakhirnya. Kedua kepala itu jatuh terpenggal. Darah segar memenuhi tempat itu. Pelukan erat Jung Hwang membuat tubuh mereka sulit dipisahkan. Mereka menunjukkan bahwa sebuah cinta sejati tak dapat dipisahkan begitu saja, meski dunia tak mengizinkannya, dan maut mencoba memisahkan mereka.
Dan saat semuanya berakhir
Cintaku padamu tak pernah terhapus
Ketika kita bertemu di tempat yang berbeda
Aku yakin semuanya akan menjadi lebih baik
